Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

Renungan Pagi - Dunia Unik

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan.
Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang.
Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata:
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus.
Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak.
Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis.
Dia membawa kembali ibunya pulang, dan, merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita di atas hanya dongeng............

Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita di atas.
Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll.
Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jikalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula.
Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, di saat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa.
Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.

Sabtu, 25 September 2010

SAINS DAN KESADARAN SPIRITUAL

Albert Einstein yang hidup sekurun waktu dengan relativitas Eddington, H.A.Lorenz, dan Willem de Sitter pernah berkata bahwa yang namanya kreatifitas itu muncul dii titik pusat gravitasi kesadaran emosional manusia.
Tentu saja perkataan semacam itu nyaris menggebrak nyali para pengritus ilmu materialisma Barat yang memuja rasio sebagai cikal bakalnya ilmu.
Gebrakan yang membangunkan kesadaran baru itu mengatakan bahwa tenaga rasio yang selama ini terpuja sebagai rohnya ilmu, ternyata Cuma sekedar alat bantu belaka bagi proses pembuktian dan penajaman dari pengertian-pengertian baru yang muncul dari ‘kemampuan intuitif’


Selanjutnya menurut kreator Einstein, kreatifitas ilmiah menjelma berkat kemampuan ‘ekstralogika’ yang nonrasional, seperti juga pendapat seorang fisikawan nuklir Victor F. Weisskof bahwa sains memiliki akar dan asal di luar pikiran yang rasional.

Bagi para ‘kuli’ otak yang bermandi keringat di gurun-gurun ilmu yang kering kerontang nilai, pendapat tersebut begitu mengejutkan, menyambar kesadaran usang bak gledek di siang bolong, kendati sang matematikus Goedel dengan teorema Goedelnya masih lemah lembut menegaskan kembali bahwa sains Cuma mungkin hadir sebagai kerangka keilmuan yang sifatnya malahan ’nonilmiah’ !, Sekilas kedengarannya aneh bin unik, namun sang matematikus yang kesadaran ilmunya semakin jernih itu telah berhasil membuktikan bahwa suatu sistem aksioma mustahil mampu berdiri sendirian. Guna membuktikan kebenarannya, mau tidak mau toh kita memerlukan pengetahuan dari sistem aksioma tersebut.

Perlu disadari benar bahwa setiap kegiatan ilmiah tidak mungkin terhindar dari pelukan pengalaman manusiawi dalam areal yang lebar.
Apa landasan sains yang non ilmiah itu ? Tak lain adalah ’keyakinan’ setiap ilmuwan bahwa kebenaran ilmiah itu ’dipercayai’ sebagai hal yang relevan dan berguna.

Para ilmuwan di seantero jagat ini, yang mengaku dirinya merdeka, dalam artian telah tak rela membeo terhadap dogmatika ilmu yang konvensional, telah mulai sadar bahwa gugus emosional itu sebenarnya berlaku sebagai prakondisi karsa pencarian kebenaran ilmiah itu sendiri. Maka semakin lama semakin terkuaklah bahwa dalam sains sendiri ternyata termaktub aspek emosional dan non rasional sehingga gamblanglah bahwa intuisi dan daya yang irrasional sekalipun memiliki peran yang tak pantas disepelekan begitu saja dalam penelitian ilmu.
Bukankah setiap insan peneliti ilmu manapun akan diliputi rasa haru tatkala dalam benaknya menjelma pengertian baru? Siapa pula orang tak akan beremosi tinggi tatkala menjumpai temuan-temuan baru dalam alam yang penuh teka-teki ini ?

Sebelum Dr. Russel Cannon menemukan galaksi Carina Kerdil lewat teleskop Schmidt-nya yang selalu dipeluknya tatkala langit jernih di malam hari, dirinya senantiasa digeluti semacam kepercayaan bahwa nun jauh disana, di langit luas itu, masih bertebaran benda-benda langit lain yang belum tercatat pada peta astronomi. Dengan dimodali semacam kepercayaan pula maka para pakar ilmu membuat teropong bintang berdiameter 200 inci di
Palomar Garden, teropong 236 inci di Pengunungan Caucasus, bahkan teropong langit bercermin ganda 591 inci di Hawaii yang mampu mendobrak tirai langit lebih teliti lagi sehingga galaksi Andromeda berhasil dipetakan dengan mudah

Setelah dorongan kepercayaan yang begitu subjektif menjumpai ”ilmu hisab” bagi kecepatan orbit planet terhadap bintang, maka saat terjadinya gerhana telah bisa ditentukan beberapa puluh tahun sebelumnya oleh manusia bumi, karena manusia bumi sendiri percaya bahwa kecepatan orbit benda-benda angkasa itu tak akan berubah dalam waktu tertentu.

Namun, sialnya dengan adanya ketepatan hisab pada sains, maka para pakar ilmu percaya bahwa ilmu merupakan patokan kebenaran mutlak yang universal sehingga kebenaran Allah sebagai sebab pertama dari adanya ilmu seakan dikesampingkan menjadi nomor kesekian sambil mereka lupa bahwa Allah yang Mahakuasa itu dapat saja mengubah segala sesuatu secara tiba-tiba, yang akan menjelmakan kesimpulan lain dari tabiat alam semesta yang diubah-Nya. Kita tidak tahu, sudah berpa kali kedudukan poros bumi diubah Allah. Kita pun tak tahu, berapa juta galaksi yang telah diledakkan Allah di angkasa raya, yang mengubah tabiat rotasi, yang mengubah tabiat orbit, dari mulai orbit zarah yang paling kecil hingga orbit benda yang paling besar dimana kita sekadar zarahnya yang tak berarti.

Dalam bukunya,
Krisis Global Ilmu Pengetahuan, Dr. Hidayat Nataatmadja, yang merasa kecewa dengan gelar Ph.D.-nya yang dirasakan kurang berarti bagi pegangan hidupnya, dengan lugas mengatakan bahwa rsio yang kaprah digembar-gemborkan sebagai pedoman penunjuk arah itu Cuma omong kosong belaka. Sarjana jebolan Universitas Hawaii itu yakin bahwa yang pantas dijadikan pedoman hidup adalah kesadaran spiritual . Kesadaran spiritual yang bukan dalam ungkapan rasional, melainkan kesadaran spiritual yang berakar dalam dunia pengalaman dan rasa. Yang menjadi pedoman ialah rasa, motivasi spiritual, yang mendorong rasio menimbang atau menghitung alternatif-alternatif, dan memilih mana alternatif-alternatif itu yang paling baik. Bukan paling baik menurut rasio, melainkan paling baik menurut dunia rasa. Dan rasio sendiri sekedar salah satu alat timbang. Oleh sebab itu, jelaslah mengapa Bertrand Russel pernah mengatakan bahwa kretifita tidak mungkin diterangkan secara rasional. Dan awal keraguan yang dituding Descartes sebagai pembuka penalaran ilmiah pada dasarnya bermodalkan kepercayaan juga, dalam artian tidak ada kata ragu andai tidak dihantui rasa percaya. Jelas bahwa ilmu pengetahuan itu dimulai dari keyakinan. Mustahil para peneliti ilmu yang tidak meyakini sesuatu yang akan ditelitinya akan berhasil sehingga ia akan berupaya mencari sesuatu itu, sebagai contoh Madame Curie yang mengorbankan waktu tidurnya tatkala meneliti unsur Radium.

Manusia adalah makhluk yang doyan bertanya untuk meningkatkan nilai pengetahuannya. Namun ternyata tidak seluruh masalah yang dipertanyakan oleh manusia dapat dijawab secara memuaskan oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia sebab ilmu pengetahuan milik manusia hanya bagaikan setetes embun bila dibandingkan dengan ilmu yang belum terkuak di Arasy-Nya, yang andai seluruh air lautan dijadikan tinta buat menuliskannya, tak akan cukup guna menyelesaikan menuliskan ilmu-ilmu Allah itu, sesuai dengan Firman-Nya dalam Surah Al-Kahfi :109 yang artinya:

Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".

Manusia dilahirkan, tak ayal lagi ditugaskan Tuhan guna membangun, terus membangun, membangun ilmu dan agamanya, membangun prasarana dan sarana fisiknya. Manusia berhak melaksanakan kekhalifahannya dalam kadar iman dan ilmu yang dimilikinya, dan dengan takaran iman dan ilmu yang dimilikinya itu pantaslah manusia untuk merelisasikan rasa syukurnya, mengamalkan iman dan ilmunya itu demi mencapai ridho Allah semata, dalam artian bahwa ilmu yang dikendalikan oleh kelurusan beragama, akan menyehatkan penggunaan ilmu itu sendiri. Sebaliknya, ilmu yang tidak didukung oleh kesadaran spiritual bagaikan bayang-bayang yang tanpa sosok, bagaikan akibat yang lepas dari sebabnya. Malahan tampaknya tidak masuk akal.

Selasa, 14 September 2010

15 Orang terkaya di Indonesia, Apakah Mereka KAYA YANG SEBENARNYA


Pengusaha Budi Hartono masih memimpin sebagai orang terkaya di Indonesia dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia yang dirilis oleh Majalah Globe Asia, Senin (31/5/2010).

Berikut 15 orang yang masuk ke dalam daftar 150 Terkaya di Indonesia:
  1. Budi Hartono (Djarum) 4,8 miliar dollar AS
  2. Eka Tjipta Wijaya (Sinar Mas) 4 miliar dollar AS
  3. Anthony Salim (Salim) 3,6 miliar dollar AS
  4. Aburizal Bakrie (Bakrie) 3 miliar dollar AS
  5. Martua Sitorus (Wilmar) 2,5 miliar dollar AS
  6. Putra Sampoerna (Sampoerna Capital) 2,4 miliar dollar AS
  7. Sukanto Tanato (Raja Garuda Mas) 1,8 miliar dollar AS
  8. Dato Low Tuck Kwong (Bayan) 1,4 miliar dollar AS
  9. Peter Sondakh (Rajawali) 1,3 miliar dollar AS
  10. Eddy William Katuari (Wings) 1,3 miliar dollar AS
  11. Murdaya Poo dan Siti Hartarti (Berca) 1,1 miliar dollar AS
  12. Hashim Djojohadikusumo (Tirtamas) 950 juta dollar AS
  13. Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam) 890 juta dollar AS
  14. Mochtar Riady (Lippo) 805 juta dollar AS
  15. Prajogo Pangestu (Barito) 805 juta dollar AS.
Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu kita camkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup).

Orang yang kaya hati selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Kita semua ingin kaya, dan tidak ada larangan untuk itu, walaupun juga tidak ada anjuran untuk keinginan seperti itu. Namun hendaknya kita memperbaiki keinginan itu menjadi ingin kaya karena ingin bisa bersedekah. Hal sebagaimana dalam hadits Nabi tentang iri yang diperbolehkan, yaitu iri terhadap seorang mukmin yang kaya yang bisa berderma karena kekayaannya, dan iri tersebut muncul karena keinginan untuk berderma juga bukan karena yang lain.

Ingin kaya tanpa kerja keras? Sebaiknya jangan. Tanamkanlah pada diri kita bahwa untuk mencapai sukses di bidang apapun seseorang perlu bekerja keras. Untuk sukses di akhirat, seseorang perlu beramal dengan baik dan sungguh-sungguh. Tentu yang seperti merupakan keharusan. Untuk sukses di dunia juga demikian, perlu kerja keras.

Kaya seperti di sinetron jangan menjadi mimpi, tapi bekerjalah dengan tekun agar menjadi orang kaya yang sebenarnya. Setelah kaya jangan pelit, karena sebagian harta itu ada bagian bagi orang-orang miskin di sekitar kita.

Semoga bermanfaat.


Rabu, 13 Mei 2009

PUPUS HARU DI SAJADAH BIRU (2)

Ya Allah,....... Tuhan yang memegang jagad hening
Tuhan yang mencekal cinta kekal
Tak sia-sia Kau menunjuk Al-Amin menjadi Rasul akhir
Muhammad sang pengajak ruku’ dan sujud
Kendati Kau tan tertakar oleh benak yang kekar
Tak tertimbang oleh kalbu yang bimbang
Kau niscaya ada !
Wajah-wajah kami yang berekspresi tulus ini
Jangalah Kau tirai dari cahya indah-Mu
Sebab, tanpa cahya indah yang memancar dari keridhoan-Mu
Tawa kami menjadi semu
Tangis kami menjadi palsu
Kami tak kuasa menuduh-Mu
Tersusun dari zat-zat bikinan-Mu
Kami tak tega menuding-Mu
Terbuat dari bayangan angan-angan
Sebab Kau adalah Keniscayaan awal yang tak memiliki sebab.

Kau Asalnya segenap jarak
Awalnya segenap jengkal yang pandai memupus ruang
Yang pandai memupus runtunan waktu.
Oleh sebab itu, pupuskanlah kami tatkalasujud di sajadah biru-Mu
Yang menggelar dari ujung ke ujung ufuk
Yang menikar keimanan insan
Yang berbinar di selurus jalan benar

Allahu Akbar,......
Atas kekaguman yang begitu tinggi terhadap ciptaan-Mu itu
Maka tak pantas kiranya jika kami tak ruku’ dan sujud kepada-Mu
Selama siang dan malam, yang terornamen tasbih, tahmid dan takbir
Yang terukir indah di kesadaran semesta
Yang tak tertirai kedekilan jiwa ingkar
Ayat kauniyah-Mu tersirat agung di segenap bumi dan segenap langit
Tersirat dalam penciptaan pelangi indah yang melengkung
Yang menghujam segara-segara biru
Tersirat di halilintar yang membelah langit sore dan langit malam
Tersirat di lahar-lahar gunung yang membuat bumi bertambah subur

Allahu Akbar,.......
Nilai asih-Mu terhadap makhluk-Mu di bumi dan di langit
Tak kan terbalas oleh ruku’ dan sujud makhluk-Mu
Walaupun berkepanjangan tanpa henti
Ternyata dalam takaran ibadah kami yang tak memadai
Kau adalah Maha Pengasih yang tak pilih kasih
Kau adalah Maha Pengampun yang tak ternilai oleh jumlah-jumlah
Sebab kau adalah Sang Penilai yang Maha Tinggi terhadap segenap nilai
Oleh sebab itu, kuatkanlah kami , Ya Allah,....
Agar ibadah kami terhadap-Mu
Tidak sekadar menyombongkan jumlah-jumlah
Tetapi mewedarkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dalam ridho-Mu semata, dalam rangka merintis jalan ke kehidupan akhirat yang paling indah.

Amin,......!


Selasa, 12 Mei 2009

PUPUS HARU DI SAJADAH BIRU

Aku tersentak ditengah kebisuan malam
Jam sudah menunjukkan 02.15
Kuberanjak mengambil air Wudhu
Setelah shalat kulantunkan Do'a




Kamis, 07 Mei 2009

MANOHARA PINOT, RANI JULIANI, DAN WANITA-WANITA SIMBOL TONGGAK PERADABAN


Manohara Odelia Pinot Dan Rani Juliani dua nama yang berbeda, dua sosok yang berbeda, dua kasus yang berbeda tetapi memiliki satu persamaan yaitu namanya melejit dan terkenal bagai roket dari media dengan kisah yang dibawanya..bisa menjadi berita hangat serta gosip panas di Indonesia tercinta ini dan menjadikan nama mereka populer .

Dua sosok wanita ini menjadi pembicaraan dan menjadi artikel ribuan situs di internet, termasuk Blog saya tentunya.

Pembahasan berikut bukanlah merupakan lanjutan dari kisah di atas, namun sedapat mungkin dapat menjadi pencerahan bagi para wanita khususnya, agar kasus yang serupa tidak akan terulang lagi.

Dirimu adalah wanita hamba Allah, yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Engkau memiliki karakter kehalusan dan kelembutan yang mendominasi kehidupanmu.
Maka apa yang ada dalam dirimu harus kau jaga, karena itulah fitrahmu.
Namun juga perlu engkau ketahui bahwa Islam telah memuliakanmu dengan memberikan perhatian serius akan eksistensi dirimu. Bahkan saking seriusnya para ulama menulis buku khusus untukmu, fiqih wanita.
Mengapa ? karena di satu sisi engkau adalah salah satu pilar penegak ummat dan di sisi lain engkau adalah penghuni mayoritas di dalam neraka. Itulah peranmu yang sedemikian besar bagi ’hitam putih’nya peradaban manusia.
Orang-orang terkadang memandang keberadaanmu, Wahai wanita, dengan aneka macam. Mereka memandangmu dengan dholim, tidak adil, tidak proporsional.
Ada yang menghinakanmu, yaitu menganggap dirimu hanyalah sebagai pelayan laki-laki. Ada juga yang mendewakanmu, memuja dan memujimu, untuk kemudian pada akhirnya juga hanya sebagai pelampiasan untuk memuaskan nafsu syahwat. busyet dah .
Bahkan ada juga yang menyamaratakanmu dengan laki-laki, padahal jelas berbeda antara wanita guna ’menuntut’kan sebagian hakmu. Ini sebenarnya hanyalah sebagai kedok belaka untuk meng’goal’kan gagasan dan pemikiran mereka yang keluar dari fitrah, dari Islam.
Satu propaganda manis mereka tawarkan untuk mengelabuimu dan merusak citra dirimu. Dibungkus dengan kata-kata manis ’emansipasi’ atau dengan propaganda ’feminisme’ . Puncaknya adalah untuk menjauhkanmu dari Allah, Rabbmu dan Rabb kita semua.
Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Rabbnya, demikianlah salah satu kata ungkapan Ali bin Abi Thalib RA. Berikut syair Nasri-i-Khusrau, yang dimuat dalam majalah ’Horison”,XIV/317 ;

Kenali dirimu
Kalau kau pahamidirimu sendiri,
Kau akan memisahkan yang kotor dari yang suci
Pertama. Akrablah dengan dirimu
Kemudian jadilah pembimbing seluruh lingkunganmu
Kalau kau kenal dirimu, kau akan mengetahui segalanya
Kalau kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana
Kau tak tahu nilaimu sendiri
Sebab kau tetap begini
Akan kau lihat Tuhan,
Kalau kau lihat dirimu sendiri


Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu
Namun, kasihan, kau tetap membudak pada ragamu
Jangan pusingkan kenikmatan hewani,
Kalau kau jadi pencari berkah surgawi
Jadilah manusia sejati
Tinggallah tidur dan pesta ria
Tempuhlah perjalanan batin seperti pertapa
Apa pula tidur dan makan-makan?
Itulah urusan binatang buas
Dengan ilmu jiwamu bertunas
Jagalah sekarang juga
Sudah berapa lama kau tidur?

Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang?
Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemberani
Ada maksud kau dicipta serupa ini
Sungguh malu kalau kau telantarkan maksud penciptaanmu itu.

Ketika kaum wanita Barat menyerukan emansipasi, kaum wanita Timur terkejut dan terpana. Tanpa sadar mereka berucap ; ya emansipasi. Emansipasi macam apa? Emansipasi dalam pengertian bebas seperti pria dalam memperoleh pekerjaan dan uang, bukan mencuci, memasak, meladeni suami, dan mengurus anak. Ya, emansipasi seperti itu. Walaupun harus mengorbankan segalanya : naluri kewanitaan, suami, anak, rumah tangga? Tentu tidak. Tennyson, seorang penyair Barat, mengungkapkan itu dalam syairnya :

Bunga di sela tembok tua
Aku cabut kau dari sana,
Kugenggam kau di sini, sebagian dan semuanya,
Dalam tanganku
Bunga yang kecil, andaikan aku dapat mengerti
Apa sebetulnya kau, sebagian dan semuanya,
Aku akan tahu apa itu Tuhan dan manusia.


Dan wanita islam pun kini mirip dengan itu. Ketika ia tumbuh dalam lingkungan tradisi, dia tidak tahu bahwa di balik temboknya terbentang padang luas kebebasan dan pandangan yang jauh melayang. Lalu, tangan-tangan budaya Barat merenggut jiwa-jiwa mereka, mencabik-cabik pakaian Islam mereka. Mereka tak memiliki kekuatan apapun untuk menahannya. Karena mereka tidak tahu bahwa di balik tradisi ada nilai-nilai hikmah Islam yang terhalang, maka mereka tidak melihat alternatif lain, selain mengiakan tawaran Barat, sehingga mereka pun pada akhirnya turut mengecam Islam sebagai agama yang kuno dan kolot dan tidak memberi kebebasan. Padahal tradisi yang berkedok Islam itulah yang telah memasung mereka, dan bukan Islam.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW, bersabda,” Ada empat orang wanita yang paling mulia di dunia, mereka adalah Asiah isteri Fir’aun, Maryam ibunda Isa as, Khadijah dan Fathimah.

ASIAH, hidup bersama suaminya Fir’aun, namun wanita yang telah disebut dalam Al-Qur’an sebagai wanita yang beriman dan patut menjadi teladan bagi kaum wanita lainnya ini, tidak pernah sedikitpun beranggapan bahwa Fir’aun adalah tuhannya. Dan ia, dengan perasaan kewanitaanya yang halus, mengetahui semua permasalahan yang menjadi penyebab terbentuknya sifat-sifat buruk suaminya itu. Meski ia tak mampu mengubah keburukan-keburukan itu, namun ia tidak pula terhanyut kedalamnya.

MARYAM, seorang wanita yang telah mencapai derajat keimanan yang tinggi, sehingga malaikat sering mengunjunginya ketika ia sedang dalam kekhusukan ibadahnya, dan berbicara dengannya. Dia memperoleh rezekinya setiap hari dari sumber yang gaib. Ia telah mampu mencapai keridhaan ilahi sedemikian rupa sehingga mencengangkan seorang Nabi pengasuhnya, Zakaria as. Dia dipilih bagi kemujizatan Nabi suci Isa as yang lahir tanpa campur tangan seorang ayah, mujizat kedua setelah kelahiran Adam dan Hawa tanpa seorang ibu dan Ayah.

KHADIJAH, seorang wanita yang berjiwa besar menjadi tulang punggung dan pengobar semangat suaminya Nabiullah Muhammad SAW dalam setiap dakwahnya, yang dari rahimnya lahir seorang wanita mulia lainnya FATIMAH. Sosok ibu dan anak yang bergantian mendampingi Nabi Muhammad SAW, bahu membahu untuk menegakkan agama tauhid. Mereka hidup pada abad ketujuh Hijriah, sekitar empat belas abad yang lampau.

Masihkah ada sosok wanita seperti itu di jaman sekarang ini?

Sumber Bacaan :
Wanita Islam menjelang Tahun 2000, Ibnu Musthafa.

Selasa, 05 Mei 2009

GHIBAH HATI


Imam Syafi'i ra. mengatakan, "Tak ada seorang pun muslim yang terlalu taat dan tak pernah bermaksiat kepada Allah. Tak juga ada seorangpun muslim yang selalu bermaksiat dan tak pernah taat kepada Allah. Barang siapa yang ketaatannya lebih tinggi dibanding kemaksiatannya, ia sudah dikatakan orang adil. Bila keadaan seperti itu dikatakan adil, maka perlakuan adil saudaramu untuk memenuhi hak dirimu itu lebih utama. Dan sebagaimana engkau diwajibkan mengekang lisan dan membicarakan keburukan-keburukan saudaramu, engkau juga wajib mengekang hatimu. Yaitu dengan meninggalkan sikap su'udz dzann (buruk sangka)"

Buruk sangka adalah ghibah hati, dan itu dilarang. Batasannya adalah sedapat mungkin kita tak cenderung menjadikan pekerjaan orang lain pada bentuk perilaku yang cenderung pada kerusakan, selama masih mungkin kita dapat menjadikannya sebagai pekerjaan yang baik. Bila kita telah menyingkap keburukan orang lain dengan keyakinan dan penglihatan yang jelas, maka sedapat mungkin kita dapat menjadikan apa yang kita saksikan itu sebagai satu bentuk pekerjaan yang dilakukan oleh orang tersebut lantaran lupa atau lalai.
Tafarrus (berfirasat) adalah prasangka yang dilandasi oleh suatu tindakan yang pasti dan tak dapat dielakkan. Bila segala sesuatu yang dilandasi oleh keyakinan buruk kita terhadap orang lain saat ia melakukan pekerjaan yang memiliki dua kemungkinan (baik atau buruk), lalu kita lebih cenderung pada prasangka buruk dengan menurunkannya pada bentuk yang lebih hina tanpa ada indikasi khusus tentang hal itu, maka hal itu berarti kita telah melakukan jarimah (kejahatan) lewat bathin, dan itu haram dilakukan sesama mu'min.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas orang mu'min dan orang mu'min lainnya ; darahnya, hartanya, kehormatannya, dan berburuk sangka kepadanya."(HR. al-hakim)

Dalam sabdanya yang lain, " jauhilah olehmu sikap buruk sangka, karena buruk sangka itu perkataan yang paling dusta." (Muttafaq 'alaih)
Sikap su'udzdzann itu pasti menuntut sikap tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). dan tajassus itu dilarang dalam sabda Rasulullah SAW ; "Janganlah kalian bertahassus (mengintip-intip kesalahan orang), jangan bertajassus (mencari-cari kesalahan orang), jangan saling memutuskan persaudaraan, jangan saling membelakangi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (Muttafaq 'alaih)
Sekalipun tampak keburukan seorang muslim, maka kita tetap harus memperhatikan dan mendo'akan orang tersebut dengan kebaikan. Karena do'a kepada orang lain yang melakukan kesalahan, akan membuat syaitan marah dan lari menjauhi kita. Syaitan tak akan menghembuskan bisikan su'udzdzann lagi karena takut hal itu akan membuat syaitan sibuk dengan do'a dan perhatian baik kita. Sekalipun kita mengetahui kesalahan orang lain, sebaiknya nasihatilah ia secara rahasia (tidak dihadapan orang lain). Jangan sampai kita tertipu oleh syaitan yang menyeru untuk berlaku ghibah terhadap kesalahan orang lain. Bila kita menasihati orang lain, sebaiknya kita jangan dalam kondisi senang atas kekurangan orang lain tersebut dan kita mjangan memandangnya dengan pandangan menghina. Marilah kita jadikan tujuan dalam memberikan nasihat adalah semata-mata untuk membersihkan diri dari Kesalahan.

Al-Mutstakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Sa'id Hawwa.

Senin, 04 Mei 2009

AKU BERSYUKUR


Aku bersyukur ; malam ini istriku menyajikan masakan yang sama dan membosankan, karena dia seharian bersamaku di rumah dan tidak selingkuh dengan pria lain.
Aku bersyukur ; Anak-anakku mengeluh pada waktu mencuci piring, sebab ini berarti bahwa mereka berada di rumah tidak berada di jalanan
Aku bersyukur ; atas pajak yang aku bayarkan, karena itu berarti bahwa saya bekerja dan punya penghasilan.
Aku bersyukur ; Rumahku berantakan setelah pesta, karena itu berarti bahwa saya mempunyai banyak teman.

Aku bersyukur ; Melihat bayanganku di bawah terik matahari, karena itu berarti bahwa saya keluar untuk bekerja dan tidak menganggur di rumah.
Aku bersyukur ; Melihat rumput yang harus dicabut, jendela yang harus dibersihkan, dan talang air yang harus diperbaiki, karena itu berarti saya punya rumah.
Aku bersyukur ; Atas kritikan banyak orang kepada pemerintah, karena itu berarti bahwa ada kebebasan untuk berbicara.
Aku bersyukur ; tempat parkir yang jauh, sebab itu berarti bahwa aku mampu berjalan dan bisa berolahraga.
Aku bersyukur ; Atas tumpukan cucian dan harus diseterika, karena itu berarti bahwa aku mempunyai pakaian untuk dikenakan.
Aku bersyukur ; kelelahan dan pegal-pegal setiap malam, karena itu berarti bahwa saya mampu bekerja keras.
Aku bersyukur ; Atas jam alarmku yang mati pada waktu bangun pagi, karena itu berarti bahwa saya masih hidup.
Alhamdulillah Rabbil Alamin.


Minggu, 03 Mei 2009

WORTEL, TELUR DAN BIJI KOPI


Siang ini aku lagi bete dirumah nggak ada kerjaan, kubuka My Kompi dan mencoba blogwalking cari inspirasi. Seketika aku teringat sebuah perenungan tentang analogi wortel, telor dan biji kopi.......,


  • Taruhlah 3 mangkok berisi air di atas api (emang mau masak apa sih?)
  • Di mangkok yang pertama masukkan wortel, mangkok yang kedua masukkan telur, dan di mangkok yang ketiga masukkan biji kopi yang telah ditumbuk menjadi bubuk kopi.
  • Didihkan ketiga mangkok tersebut selama 15 menit, kemudian keluarkan wortel, telur dan serbuk kopi tadi. Amati.... apa yang terjadi (kayak penuntun praktikum yah!)
  • Wortel masuk dalam kondisi keras, sekarang menjadi sangat lunak.
  • Telur masuk dalam kondisi lembut di dalam, sekarang sekarang menjadi keras.
  • Serbuk kopinya hilang, tetapi airnya menjadi berwarna hitam dan memiliki aroma kopi yang nikmat.

Sekarang marilah kita pikirkan tentang kehidupan :
Hidup tidak selalu mudah
Hidup tidak selalu menyenangkan
Kadangkadang hidup sangat keras
Semuanya tidak terjadi seperti yang kita harapkan
Orang-orang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan
Kita terkadang bekerja keras tetapi mendapat hasil yang sangat sedikit
Apa yang terjadi ketika kita menghadapi kesukaran?

Sekarang pikirkan lagi tentang ketiga mangkok tadi :
Air yang mendidih ibarat persoalan kehidupan

Kita dapat seperti wortel
Kita masuk dengan keras dan kuat
Kita keluar dengan lunak dan lemah jangan mikirin yang macem2
Kita menjadi sangat lelah
Kita kehilangan harapan
Kita menyerah
Tidak ada lagi semangat berjuang,
JANGAN SEPERTI WORTEL

Kita dapat seperti telur
Kita mulai dengan hati lembut dan peka
Kita berakhir dengan hati yang keras dan tanpa perasaan
kita benci orang lain
Kita juga benci diri sendiri
Hati kita membeku
Tidak ada lagi kehangatan
yang tinggal hanya kepahitan,
JANGAN SEPERTI TELUR

Kita dapat seperti biji kopi
Air tidak mampu mengubah bubuk kopi
Bubuk kopi yang mengubah air
Airnya berubah karena bubuk kopi
Cium, rasakan dan minum............
Makin panas airnya, makin nikmat rasanya.
KITA DAPAT MENJADI SEPERTI BIJI KOPI

Kita membuat sesuatu yang indah dari kesukaran yang kita hadapi
Kita belajar sesuatu
Kita mendapat pengetahuan baru, keterampilan baru dan kemampuan baru
kita tumbuh bersama pengalaman
Kita membuat dunia sekeliling kita menjadi lebih indah

Untuk meraih kesuksesan, kita harus mencoba tanpa dihantui oleh ketakutan akan kegagalan.
Kita harus yakin tentang apa yang akan kita lakukan
Kita tidak boleh menyerah
kita harus sabar
Kita harus tetap mendorong dan mendorong lagi

Persoalan dan kesukaran akan memberi kita kesempatan untuk menjadi lebih kuat, lebih baik, dan lebih tanggap.

Nah...........
Kita mau menjadi apa ketika kita menghadapi persoalan....
Seperti Wortel, Telur atau Biji Kopi ?
JADILAH SEPERTI BIJI KOPI


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates