Social Icons

Pages


Tampilkan postingan dengan label Zona Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Bisnis. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

Lima Negara Super Makmur Di Dunia

1. SWISS

Swiss menempati posisi teratas sebagai negara dengan penduduk dengan rata-rata kekayaan tertinggi di dunia, yakni sebesar US$372 ribu per orang dewasa. Bahkan, dari total 6 juta orang dewasa, sebanyak 230 ribu orang di antaranya memiliki harta rata-rata lebih dari US$1 juta. Sedangkan, total produk domestik bruto (PDB) per orang dewasa sebesar US$88,5 ribu.

Kebanyakan orang-orang tajir di Swiss menempatkan kekayaannya dalam bentuk 43-an persen berupa non finansial aset seperti properti, sedangkan 57 persen berupa instrumen investasi keuangan.

2. NORWEGIA

Norwegia menempati posisi kedua sebagai rumah bagi penduduk yang memiliki kekayaan rata-rata tertinggi di dunia.

Norwegia seperti halnya Denmark, Finlandia dan Swedia yang merupakan negara dengan populasi rata-rata berpenghasilan tinggi di dunia.

Kekayaan warga Norwagia rata-rata melebihi warga Australia sebesar US$321 ribu, namun masih di bawah Swiss US$372 ribu setiap orang dewasa.

3. AUSTRALIA

Australia menempati urutan ketiga dari sisi kekayaan penduduk dewasa, rata-rata sebesar US$321 ribu per orang dewasa. Kekayaan orang Australia kebanyakan atau 64 persen dalam bentuk properti, yakni sekitar US$261 ribu. Total kekayaan 16 juta populasi dewasa Australia sebanyak US$5,1 triliun.

Sebanyak 740 ribu orang Australia juga tergolong jutawan, yang memiliki harta lebih dari US$1 juta. Ini menempatkan negeri Kanguru tersebut menyumbang 3 persen dari total jutawan seluruh dunia. Di Australia, tidak ada penduduk yang memiliki kekayaan di bawah US$1000.

4. SINGAPURA

Kekayaan keluarga di Singapura mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade dari rata-rata US$105 ribu menjadi sekitar US$255 ribu pada 2010. Ini menempatkan Singapura berada di posisi keempat sebagai negara dengan dengan tingkat kekayaan tertinggi per orang dewasa. Harta mereka umumnya disimpan dalam bentuk separoh berupa properti dan separoh lagi dalam bentuk instrumen finansial, seperti deposito, saham dan instrumen finansial lainnya.

Hanya 2,4 persen dari orang dewasa Singapura yang berjumlah 4 juta orang yang memiliki kekayaan di bawah US$1000 per orang. Mayoritas atau 54 persen memiliki harta di kisaran US$10.000-100.000 per orang dewasa. Sedangkan, yang memiliki harta lebih dari US$100 ribu berjumlah lebih dari 20,8 persen populasi orang dewasa. Total kekayaan warga Singapura sebesar US$0,9 triliun.

5. PRANCIS

Jumlah orang kaya di Prancis tumbuh signifikan sejak tahun 2000. Rata-rata kekayaan warga Prancis mencapai US$255 ribu per orang dewasa sehingga menempatkan Prancis dalam posisi kelima di dunia. Total kekayaan 47 juta orang dewasa Prancis mencapai US$12,1 triliun.

Sebagian besar kekayaan mereka disebabkan oleh apresiasi nilai tukar Euro terhadap dolar. Namun, kenaikan harga aset-aset properti turut menyumbang 2/3 kekayaan warga Prancis. Sebanyak 2,2 juta warga Prancis tergolong jutawan yang memiliki harta lebih dari US$1 juta per orang.

Kamis, 13 Januari 2011

Mau Kaya? Jadilah Pengemis!

Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, ‘berkarir’ sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti.

http://annunaki.wordpress.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Blogger Templates